Tampilkan postingan dengan label Psychology. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psychology. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Oktober 2012

REVIEW ANALISIS JURNAL (Minggu ke-3)

yoyoyo.....
akhirnya ngeblog lagi nih.

oiya mau share tentang kuliah psikodiagnostik minggu ini loh tanggal 2 Oktober 2012, tentang analisis jurnal perkelompok (yang kebetulan kelompok saya yang presentasi, hehehe...)
langsung aja yah :)

JURNAL:


“PENGARUH VISUAL STORYTELLING KOMIK ASING PADA KOMIK INDONESIA TERBITAN PT. ELEX MEDIA KOMPUTINDO TAHUN 2004-2008”
Yohan Alexander, Irfansyah

URGENSI JURNAL:

  • Komik lokal terancam keberadaannya
  • Komik terjemahan mendominasi produksi komik lokal di Indonesia
  • Komik lokal sekarang mulai terpengaruh karakter dari komik asing terutama komik amerika, komik jepang, dan komik eropa pada saat komik indonesia tengah mencari jati dirinya.


KAJIAN TEORI:

Visual Storytelling
à Scott McCloud (2005) mengungkapkan bahwa visual storytelling pada akhirnya memiliki tujuan utama agar pembaca komik dapat mengerti dengan jelas cerita yang disampaikan dan juga mengajak pembaca untuk tetap mengikuti ceritanya.

SAMPEL PENELITIAN:

Sampel dalam penelitian ini difokuskan pada komik yang diterbitkan oleh PT. Elex Media Komputindo tahun 2000-an, diantaranya:
  • Grand Pandora karya felix (2004),
  • Final Distance karya Rere (2005), 
  • Wind Rider karya Is Yuniarto dan John G.Reinhard, 
  • Red Feather karya Lukman Harry (2006) , 
  • Wayangbliz kabar Kibar dan Hander (2007) , dan 
  • Dark Venus karya Eric (2008). 

Adapun alasan pemilihan sampel bergenre aksi tersebut karena didasarkan pada genre yang paling dominan diproduksi oleh negara Amerika, Eropa, dan Jepang.

METODE PENGAMBILAN DATA:

Data diperoleh dengan melakukan beberapa langkah, yaitu:
  1. Langkah pertama diawali dengan mengobservasi komik Indonesia terbitan PT. Elex Media Komputindo tahun 2000-an  è Dipilih ke dalam beberapa sampel berdasarkan klasifikasi genre yang berlaku dalam komik.
  2. Mengidentifikasi beberapa komik asing Amerika,  Jepang, dan eropa untuk dikaji terkait ciri khas elemen visual storytelling dari masing-masing komik negara tersebut.
  3. Membandingkan karakteristik elemen visual storytelling komik Jepang, Amerika, dan Eropa tersebut dengan karakteristik elemen visual storytelling pada komik indonesia terbitan PT. Elex Media Komputindo tahun 2000-an.
KESIMPULAN:

Komik Indonesia yang terbit pada tahun 2000-an cenderung dipengaruhi komik Jepang namun lebih ekstrim dalam hal personalisasi karya atau lebih subjektif. Efeknya adalah membuat komik Indonesia cenderung memiliki pace lebih panjang namun menyederhanakan cerita karena dibatasi jumlah halaman.

Adanya pengaruh komik Amerika dan komik Eropa dikarenakan karyanya pernah disukai atau dibaca juga oleh para komikus Indonesia. Pengaruh tersebut terlihat pada kecenderungan komikus Indonesia untuk berusaha memberi kesan ilustrasi yang relatif ekspresif walaupun tidak ada relevansinya dengan cerita. Selain itu, dilihat dari garis besar perkembangan komik Indonesia, dengan diadopsinya gaya komik Jepang, menggambarkan putusnya hubungan antara komik Indonesia tahun 1960-1970-an dengan komik Indonesia kontemporer.



Jumat, 21 September 2012

Review Perkuliahan Psikodiagnostik - Analisis Jurnal


Hollaaa...............

Mau share review nih tentang apa aja yang didapat di perkuliahan psikodiagnostik minggu ini tanggal 18 September 2012. Karena minggu sebelumnya sudah dibagikan kelompok dan diberi tugas perkelompok untuk membahas jurnal, maka minggu ini saatnya 3 kelompok untuk mempresentasikan hasil tugas untuk analis jurnal mengenai observasi ataupun jurnal-jurnal yang pengambilan datanya melalui observasi.

Langsung aja ya kita review dari kelompok 1, jurnalnya adalah:

”Realitas Cinta dimata Remaja Perempuan
Studi Kasus Sindrom Cinta pada Seorang Perempuan Remaja Pasca film ‘ Ada Apa Dengan Cinta’”

Subjek penelitian :
  • Perempuan, usia 18 tahun, Penonton/penikmat film Ada Apa Dengan Cinta dan film lain dengan gender remaja, penikmat musik pop remaja dan sinetron remaja, dan lingkungan pergaulan yang populer.
  • Peneliti menggunakan metode observasi partisipan (observasi partisipan à suatu observasi dimana peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari informan/sumber data yang sedang diamati).


Permasalahan penelitian:
  • Bagaimana seorang remaja belajar dan percaya akan apa yang disajikan oleh media?
  • Bagaimana proses kultivasi tersebut terjadi?
  • Melihat posisi remaja tersebut sebagai reader media.


Hasil interpretasi:

Sebagai anak remaja yang masih berusia 18 tahun, informan memang masih mengalami kelabilan dalam menentukan karakter dirinya. Secara psikologis, aspek kognitif dalam dirinya memang masih mengalami pancaroba, sebuah masa ketika dirinya masih mencari kepastian akan wujud dan jati diri. Ini membuat informan menjadi lebih rentan terhadap pengaruh lingkungan, baik yang datang dari keluarga, sekolah, teman sepermainan maupun dari media.

Hipotesis peneliti terbukti, yaitu akibat rendahnya tingkat melek media serta pengaruh penglaman pribadi, baik yang datang dari diri sendiri, keluarga, teman, maupun sekolah, iforman yang masih berusia 18 tahun, sebagai remaja perempuan, ia masih rentan terhadap apa yang diberikan oleh media.

Kesimpulan:
  • Informan memiliki pengetahuan yang terbatas karena faktor usia, keluarga, sekolah, dan lingkungan pergaulannya. Informan tergolong yang tidak melek media.
  • Informan tidak mampu melihat media secara kritis.
  • Kecendrungan informan memaknai apa yang ada di media secara dominan dan menerapkannya sebagai karakter dirinya.


Lanjut analisis jurnal kedua yuk dari kelompok 2, jurnalnya adalah:

“Mitos Tentang Kehamilan”

Subjek Penelitiaan:
  • wanita yang sedang hamil, dengan usia kandungan 3 bulan
  • diobservasi atau pengamatan pada tanggal 7 Agustus 2008 dan tanggal 25 Agustus 2008
  • peneliti menggunakan metode observasi tanpa intervensi (observasi terhadap perilaku dalam setting alamiah, tanpa upaya dari pihak pengamat untuk mengintervensi (shaughnessy, 2007)). 


Permasalahan penelitian:
  • peneliti ingin mengetahui sejauh mana ibu hamil di Aceh menanggapi/menjalankan mitos-mitos yang dipercaya mereka
  • peneliti juga ingin mengetahui teori mana yang paling banyak dipahami dalam penalaran individu secara umumnya tentang hal-hal yang terkait dengan kehamilan baik itu berdasarkan penelitian ilmiah maupun mitos yang beredar di masyarakat


Hasil analisis jurnal:
  • Mitos yang menyertai proses kehamilan tersebut merupakan pengetahuan turun temurun yang diwariskan dan berkembang sebagai konsep kebudayaan dan tradisi yang berlaku hampir di sebagian besar masyarakat, yang pada akhirnya mampu membentuk pola perilaku yang menetap.
  • Sehingga atas gejala sosial ini sangat mudah dilakukan pengamatan (observasi) atas segala fakta yang ada.
  • Observasi yang dilakukan dalam penelitian bersifat sistematik, dimana segala sesuatunya telah dirancang dan dilaksanakan sesuai dengan norma dan struktur ilmiah.
  • Mitos yang menyertai proses kehamilan tersebut merupakan pengetahuan turun temurun yang diwariskan dan berkembang sebagai konsep kebudayaan dan tradisi yang berlaku hampir di sebagian besar masyarakat, yang pada akhirnya mampu membentuk pola perilaku yang menetap.
  • Sehingga atas gejala sosial ini sangat mudah dilakukan pengamatan (observasi) atas segala fakta yang ada.
  • Observasi yang dilakukan dalam penelitian bersifat sistematik, dimana segala sesuatunya telah dirancang dan dilaksanakan sesuai dengan norma dan struktur ilmiah.


Lalu yang terakhir dari kelompok 6, jurnalnya adalah:

“Post Traumatic Growth Pada Penderita Kanker Payudara”

Metode penelitian:

Peneliti menggunakan metode observasi non partisipan (suatu observasi dimana peneliti tidak terlibat dengan kegiatan sehari-hari informan/sumber data yang sedang diamati).

Kesimpulan:

            Dari hasil jurnal yang telah kelompok 6 analisis, dapat disimpulkan bahwa terdapat dua fakor yang mempengaruhi aspek post traumatic growth pada kedua informan. Faktor tersebut dapat dibagi menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Berdasarkan pada pembahasan, dapat diketahui bahwa setidaknya terdapat 4 pertumbuhan pasca trauma atau (post traumatic growth) yang signifikan timbul dari perjuangan informan dalam menghadapi penyakit payudara ini, antara lain: peningkatan spiritualitas, positive improvement in life, proses sosial semakin tinggi, dan relasi sosial semakin baik. Ketika didiagnosis menderita penyakit yang mengancam hidupnya, individu sering memikirkan kembali makna dan tujuan hidup mereka dan mempelajari kembali prioritas mereka.



Jumat, 14 September 2012

Psikodiagnostik 2 (Observasi) - Pengenalan Metode Observasi

Berbicara mengenai metode pengambilan data penelitian ilmiah dalam psikologi, ada 2 metode yang paling sering digunakan untuk membuat karya ilmiah. Metode observasi dan wawancara merupakan metode paling dasar dari pembuatan karya ilmiah khususnya psikologi.


Mengapa observasi menjadi paling terpenting yang dilakukan dalam metodologi penelitian ilmiah? 
à penginderaan manusia 70% melalui visual. Dalam observasi, memerlukan fungsi dari semua indera yang manusia  miliki (ilmiah: indera keenam tidak dipergunakan), dari kesemua indera, yang paling besar fungsi dalam penggunaan metode observasi adalah visual (melihat).

Anda tidak boleh memasukkan unsur-unsur subjektifitas dalam penelitian ilmiah. Anda hanya boleh mendengar dan mencatat apa yang anda lihat dari pengamatan anda terhadap objek observasi anda.

Bagaimana cara mendapatkan objektifitas?
è Tidak memaknai sesuatu (berusaha mengaitkan pada teori) tidak diperkenankan untuk melakukan penilaian, hanya boleh melakukan pencatatan kesimpulan.
è Menjaga jarak dengan apa yang kita observasi
è Semua hasil maupun observasi, harus mengacu pada teori
è Kita hanya diperkenankan mendeskripsikan
è Peneliti harus lebih dari satu dan peneliti harus mengerti, memahami teori

Kelemahan dari observasi adalah kita tidak bisa mengetahui motif dari apa yang kita  observasi (kita tidak mengetahui apakah objek yang kita observasi memunculkan perilaku murni ataukah hanya dibuat-buat). Seperti teori dari Freud yang menjelaskan teori gunung es 3 tingkatan, Knowledge atau pengetahuan bisa kita lihat dengan orang lain menguji melalui pertanyaan tentang pengetahuan (observasi), Skill atau kemampuan pun dapat kita lihat dengan cara orang lain mengujinya pula (observasi), namun Motive hanya bisa kita ketahui dengan memakai metode wawancara saja.

Dapat dikatakan observasi ilmiah, jika memiliki unsur-unsur:
è Ada teori terkait
è Ada objek yang diteliti (objektif)
è Empiris (bisa dibuktikan)
è Terukur (valid dan reliabel)
è Sistematis


Klasifikasi metode observasi
Metode observasi dapat diklsifikasikan berdasarkan dua dimensi, yaitu:
·      Observasi tanpa intervensi
Observasi terhadap perilaku dalam setting alamiah, tanpa upaya dari pihak pengamat/peneliti untuk mengintervensi.

·      Observasi dengan intervensi
Kebanyakan penelitian psikologi menggunakan observasi dengan intervensi. Ada tiga metode observasi dengan intervensi, yaitu:
1.      Participant observation
Pengamat (observer) memainkan peran ganda, yaitu mengobservasi perilaku orang dan sekaligus beerpartisipasi aktif dalam situasi yang sedang meeka observasi.
2.      Structured observation
Pengamat melakukan intervensi untuk menyebabkan timbulnya suatu kejadian atau untuk “merancang” sebuah situasi sehingga kejadian yang dimaksud dapat dicatat secara lebih mudah dibanding bila tanpa intervensi.
3.      Field experiment
Seorang peneliti memanipulasi satu variabel independen atau lebih dalam setting alamiah untuk menetapkan efeknya pada perilaku.

Sumber: Saughnessy,J.John.,Zechmeister,B.Eugene.,&Zechmeister,S.Jeanne.2007.Metodologi Penelitian Psikologi(Ed.7).Yogyakarta.Pusaka Belajar.


Sabtu, 19 Mei 2012

SATURDAY AFTERNOON OF PSIKO-TEK

kata yang pertama kali terlintas di otak adalah 'APA'
'apa' yang mau ditulis? , 'apa' yang mesti ditulis? , 'apa' yang kudu di tulis? , 'apa' yang harus ditulis? , 'apa' yang sebenarnya ditulis?
anda bingung? ya, saya pun juga bingung dengan apa yang saya tulis hehehe

oke oke oke to the point :)
asalamualaikum.
disini saya ingin menuliskan hasil dari observasi kecil-kecilan saya saat acara outbond fakultas psikologi dan teknik.
sebenarnya ini tugas sih hehehe... tugas observasi :)

langsung saja ya.
pertama-tama yang ingin saya bahas adalah pemilihan hari, tempat dan partner. 
saat itu yg terpikirkan adalah:
kuliah hari sabtu, ngapain? aduh males banget
tempatnya di lapangan ekonomi, yampun kuliah kok di lapangan sih
partnernya dengan anak teknik, yassalam ga ada yang lain ya. 
well, itu adalah pemikiran awalnya. tapi setelah tahu apa saja yang akan kita lakukan di lapangan dan bagaimana sosok wujudnya anak-anak teknik (apalagi yang namanya wahyu *ups). 
wuidiiiih ga salah deh dosen tercinta kita membuat acara semacam ini. hehehe *peace mas*

acara ini adalah acara semacam outbond kecil-kecilan, yang saya rasa bertujuan kuliah refreshing gitu deh terobosan terbaru (bagi saya) kuliah bukan dikelas melainkan di alam terbuka (apasih ike hehehe) dan tentunya mengakrabkan satu sama lain terutama untuk dalam lingkup 1 fakultas dan juga antar fakultas.

dalam outbond ini ada 3 macam permainan, diantaranya water transfer, (ga tahu namanya) yang ada observer, repeater, instruktor, dan yang terakhir kalau tidak salah namanya mini nuklir. semua permainan mempunyi nilai-nilai dan pesan pesan yang tersirat. 
saya simpulkan bahwa pesan / makna dr outbond kemarin adalah terdapat nilai-nilai kepemimpinan, kesabaran, komunikasi, manajemen diri, manajemen emosi, dll. tapi masih banyak dari kami semua yang belum mampu me-manage dengan baik dari nilai-nilai yang saya sebutkan diatas, masih perlu pembelajaran. karena masih banyak individu-individu yang memang ingin menonjolkan sisi positifnya namun karena saking ingin menonjolnya, kok jadi lebih terlihat 'agak' condong ke arah negatif ya?.

singkat cerita, kuliah diagnostik kemarin sangat menyenangkan, cukup memberikan pencerahan dan lebih fresh (sering sering ya mas seta)
sekian hasil observasi (lebih ke laporan deh kayaknya) saya.
terima kasih. wassalam.

Senin, 26 Maret 2012

Jenis-jenis dan Alat Tes dari Cabang Psikologi


yap, udah seminggu nih baru nulis tentang psikodiagnostik lagi.

mmmmh, jadi bingung mau nulis awalnya gimana *ehh
soalnya udah kelamaan ga latihan taekwondo lagi, jadi uring-uringan gini deh.
loh loh loh kok jadi curhat gini sih ya.

yo yo yo, langsung mulai aja deh.
apa aja sih ilmu diagnostik yang didapat hari ini??

tes-tes psikologi. 
apa sih yang dimaksud dengan tes-tes psikologi??
tes psikologi atau lebih dikenal sebagai psikotes adalah tes untuk mengukur aspek individu secara psikis. tes dapat berbentuk tertulis, visual, atau evaluasi secara verbal yang teradministrasi untuk mengukur fungsi kognitif dan emosional. 

ada beberapa jenis-jenis tes psikologi salah satunya tes populasi khusus dan tes kelompok.
apa sih yang dimaksud dengan tes-tes populasi khusus??
tes populasi khusus adalah tes-tes yang digunakan pada orang-orang yang tidak bisa diuji dengan cara biasa atau cara pada umumnya. 
dalam tes populasi khusus ini bisa kita lihat dari sisi kelompok usia dan juga ada yang dari sisi kurva normal.
jika kita berbicara dari sisi kurva normal, kelompok normal pastinya kita sering mendengar dan melihat  bagaimana tes-tes psikologi diterapkan pada umumnya dan pada kelompok abnormal (berkebutuhan khusus) tidak berbicara tentang intelegensi saja, namun juga kelebihan fisik. misal, individu yang tidak bisa mendengar, namun dia bisa dengan baiknya berbicara di depan khalayak ramai.

lalu, apa bedanya dengan tes kelompok???
jika tes-tes individu seperti skala stanford-binnet dan wechsler kita dapatkan dalam klinis, beda halnya dengan tes kelompok.
tes kelompok digunakan terutama dalam sistem pendidikan, tes pegawai negeri, tes dalam dunia industri, tes pilot, tes pendeta maupun dinas militer.
dalam dinas militer, tes kelompok yang digunakan adalah bernama Armed Forces Qualification Test (AFQT).


Hari ini saya juga mendapatkan ilmu mengenai alat-alat tes apa saja sih yang digunakan dalam cabang psikologi, diantaranya : psikologi klinis (anak dan dewasa), psikologi pendidikan dan psikologi sosial.

Alat-alat tes psikologi klinis anak

Wechsler Preschool and Primary Scale of Intelligence Revised
Mengukur anak merespon pertanyaan dengan memilih gambar, mengukur anak untuk bisa menyimpulkan arti sebuah kata dari petunjuk yang semakin spesifik, mengukur anak untuk menjelaskan bagaimana dua hal atau konsep yang berbeda mengandung satu karakteristik umum.

Kaufan Assessment Battery for Children
mengukur ingatan jangka pendek anak, menguji kemampuan memecahkan masalah yang melibatkan beberapa proses sekaligus, mengukur kemampuan anak untuk memecahkan masalah asing secara berurutan.


Alat-alat tes psikologi klinis dewasa

Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS)
adalah tes yang dirancang untuk mengukur kecerdasan pada remaja dan orang dewasa.

Scholastic Aptitude Test (SAT)
tes standar untuk penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi


Alat-alat tes psikologi pendidikan

Tes stanford-binnet
mengembangkan konsep mental age (MA) atau  usia mental, yakni level perkembangan mental individu yang berkaitan dengan perkembangan lain

Tes standard
membandingkan kemampuan murid dengan murid lain pada usia atau level yang sama

Tes prestasi
mengukur apa yang telah dipelajari atau keahlian apa yang telah dikuasai murid


Alat-alat tes psikologi sosial

Dalam psikologi sosial alat ukur yang digunakan tidak melihat / diujikan seperti kebanyakan alat ukur dalam bidang psikologi lain. Dalam hal ini alat ukur di psikologi sosial dengan mengobserver yang dibantu dengan quisoner.

Observasi
mengamati secara hati-hati perilaku yang ada pada individu

Metode survei (survey method)
sebuah metode penelitian dimana sejumlah besar orang diminta untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan tentang sikap dan tingkah laku

Metode korelasional (correlational method)
sebuah metode penelitian dimana ilmuwan secara sistemastis mengobservasi dua atau lebih variable untuk menentukan apakah perubahan yang terjadi pada salah satu variablen tersebut disertai oleh perubahan variable yang lain

Senin, 19 Maret 2012

Psikologi Diagnostik [lanjutan]


Well, berbicara tentang psikodiagnostik. minggu lalu sudah kita bahas mengenai sejarah psikologi, psikolog eksperimental pertama, laboraturium psikologi pertama, apa yang diukur dalam psikologi dan pengenalan sedikit mengenai apa itu psikologi diagnostik.
Oke, mari kita lanjutkan pembahasan mengenai psikologi diagnostik. Pertama, mari sedikit kita ulas pembahasan minggu lalu.
Berbicara mengenai kurva normal, kurva normal dibagi menjadi tiga bagian yaitu abnormal (negatif), normal, dan abnormal (positif). Pada masyarakat indonesia maupun dunia, kebanyakan individu berada di dalam lingkup normal.
Kalau membicarakan tentang normal/abnormal, tes-tes apa saja sih yang dipakai?
Dalam dunia psikologi, pembuatan alat ukur sering disebut dengan “psikometri” . kemudian anda berbicara tentang perkembangan manusia. Menurut Erikson, yaitu:
1.       Prenatal
2.       Infancy / Toodlerhood
3.       Early childhood
4.       Middle childhood
5.       Adolesence
6.       Young adolesence
7.       Middle adolesence
8.       Late adolesence

Pasti di dalam benak kita selalu muncul pertanyaan pertanyaan baru,
Apakah prenatal bisa diukur secara psikologis??
Apakah  tiap-tiap perkembangan memiliki perbedaan pengukuran???
Jawabannya adalah ‘ya’ tiap-tiap perkembangan manusia mempunyai pendekatan atau cara pengukuran yang berbeda dari masing-masing tahapan yang ada.
Karena tidak mungkin tahapan late adolesence diberikan pendekatan untuk prenatal, karena dari segi umur saja sudah jelas-jelas ada perbedaan yang signifikan.

Alat tes harus memiliki kesesuaian norma dengan tingkatan-tingkatan perkembangan manusia . Untuk membuat alat tes yang valid, kita harus mengetahui karakteristik tiap-tiap tahapan perkembangan manusia, seperti sudah yang saya ulas di paragraf atas.

Jika kita membuat alat tes, maka kita mempunyai tujuannya mengapa kita membuat alat tes tersebut, yaitu kita bisa melakukan intervensi terhadap sample yang kita gunakan guna menunjang penelitian , dan pengukuran pun bisa digunakan untuk keilmuan (yaitu riset untuk kasus-kasus yang langka). Disini ada juga pendekatan-pendekatan yang kita gunakan dalam penelitian, karena kasus-kasus yang terjadi tidak bisa kita campur adukkan menjadi satu pendekatan. Contoh: kasus massal bisa diberi pendekatan penelitian kuantitatif dan kasus langka bisa melalui pendekatan penelitian kualitatif. Contoh konkret kasus dalam masyarakat, kesurupan bisa diteliti dengan pendekatan psikoanalisis (menganalisa antara dunia nyata dan dunia gaib),  pendekatan tersebut dilakukan ketika orang yang kesurupan tersebut sudah sadar.

Di psikologi juga mengukur tentang values (perilaku), bisa diteliti atau di jadikan penelitian jika values tersebut sudah mengandung unsur perilaku individu. Pada jaman sekarang  ini tes IQ sudah mulai ditinggalkan pada banyak psikolog-psikolog di indonesia, karena berhubungan dengan akademik. Mereka lebih memilih tes-tes ESQ.

Psikologi memiliki penjurusan-penjurusan lain yang berkaitan, yaitu psikologi klinis yang juga termasuk perkembangan dewasa dan anak-anak, psikologi pendidikan, psikologi sosial dan yang terakhir adalah miniatur atau sampel dari psikologi sosial adalah psikologi organisasi.

Dalam  proses rekruitmen di dunia industri, yang dicari para Human Resource Development (atau yang disebut juga HRD) adalah K-S-A-O (Knowledge-Skill-Attitude-dan Others atau yang lebih spesifik adalah personality).

Baiklah, yang akan kita bahas dikesempatan kali ini adalah Psikologi Perilaku Industri dan Organisasi. Kita akan berbicara tentang alat tes yang digunakan dalam psikologi organisasi. Alat tes yang digunakan ada 3 macam, yaitu alat tes intelegensi, alat tes inventori, dan alat tes grafis (tes-tes yang sifatnya grafis). Ketiga alat tes ini harus kita cari dinamikanya, maksudnya adalah yang berhubungan dengan K-S-A-O tersebut karena masing-masing komponen sangat berbeda.

Kita ibaratkan dengan struktur gunung es oleh teori Sigmund Freud:
-      - pada puncaknya (conscious) terdapat kwonledge dan skill. Sangat mudah untuk mengukur knowledge dan skill, karena knowledge paling mudah di observasi atau diteliti, dengan cara bertanya jawab. Jika bisa menjawab, dikarenakan mungkin individu tersebut memiliki wawasan yang cukup luas (terlihat). Skill pun bisa di lihat dari bagaimana individu dapat melakukan sesuatu yang memiliki nilai tambah dalam diri, sangat mudah dilihat.
-      -  pada bagian preconscious terdapat attitude, attitude disini dimaksudkan seperti sistematika kerja, ketekunan, ketelitian, daya tahan dalam bekerja (andurance), dan keinginan berprestasi/sikap kerja. Bisa kita persingkat dengan bagaimana manusia berinteraksi dengan pekerjaannya.
-     - dan pada bagian unconscious terdapat unsur others atau personality, mendalami teori kepribadian. Misalnya ada kepribadian orang yang ekstrovert (menyerap energi untuk diri sendiri yang didapatkan dari lingkungan sekitar), orang yang introvert (menyerap energi dari dan untuk diri sendiri dengan cara meluangkan waktu untuk sendiri), dan ada pula yang keduanya ekstrovert dan introvert (kontinu): suatu hal yang tidak terputus, jika posisinya berada ditengah-tengah antara ekstrovert dan introvert, maka individu harus menyesuaikan terhadap respon dari lingkungannya.

Intelegensi Tokoh-tokohnya:
1.       Spearman
2.       Stern
3.       Thorndike
4.       Cattel
5.       Standford binnet
6.       David wechler
7.       Guilford

Intelegensi menurut:

• Spearman: mengemukakan faktor-faktor intelegensi:
1. General ability: terdapat pada semua individu tetapi berbeda satu dengan yang lain, selalu didapati dalam setiap performance.
2. Special ability: merupakan faktor yang bersifat khusus, yaitu mengenaik bidang-bidang tertentu.
Jadi dapat dikemukakan bahwa tiap-tiap performance selalu ada faktor G dan faktor S atau dapat dirumuskan : P=G+S

• Stern: yg dimaksud intelegensi adalah daya menyesuaikan diri dgn keadaan baru dgn menggunakan alat" berfikir menurut tujuannya.

• Thorndike: "intelegence is demonstrable in ability of the individual to make good response from the stand point of truth or fact"
Org dianggap intelegen apabila responnya merupakan respon yang baik atau sesuai terhadap stimulus yang diterimanya.

• Cattel: bahwa ada dua komponen dalam aktivitas intelektual, yaitu: 1. fluid intelegence adalah berkaitan dengan kemampuan yang mencerminkan potensi intelegensi yang independen dari sosialisasi dan pendidikan. 2.crystallized intelegence lebih mencerminkan aspek budaya termasuk pendidikan formal, yang dipadu dengan pengetahuan dan keterampilan.

• Stanford binnet: adalah pencipta tes intelegensi pertama tahun 1905. Tes intelegensi binnet ini mendapatkan bermacam-macam revisi baik dari binnet sendiri maupun dari ahli-ahli lain.
Dalam tahun 1916 tes binnet direvisi dan dikenal dengan nama tes intelegensi stanford-binnet. Disamping itu juga digunakan pengertian intelegence quotient (IQ) untuk memperoleh IQ digunakan dengan rumus IQ=MA/CA x 100
MA= mental age atau umur mental
CA= cronological age atau umur yang sebenarnya
(Anastasi, 1976; Morgan,dkk., 1984)

• David wechler: menciptakan individual intelegence test. Yang dikenal dengan tes Intelegensi WB. Dlm tahun 1949 wechler menciptakan tes intelegensi WISC, tahun 1955 menciptakan tes intelegensi untuk dewasa dengan nama tes intelegensi WAIS.

• Guilford: (morgan, dkk., 1984) dikenal dengan teori 3 dimensi, digambarkan dengan sebuah kubus, yang menggambarkan adanya 120 faktor dalam intelegensi. Tiap faktor dinyatakan dalam setiap sel dalam kubus dari kombinasi 3 dimensi tersebut, yaitu:
1. Dimensi operasi: yang mengandung 5 aspek yaitu kognisi, ingatan, berfikir difergen, berfikir konfergen, dan evaluasi.
2. Dimensi produk: yang mengandung 6 aspek yaitu unit, kelas, hubungan, sistem, transformasi, dan implikasi.
3. Dimensi isi: yang mengandung 4 aspek yaitu figur, simbolik, semantik, dan behavior.



Kamis, 15 Maret 2012

Filosofi Psikodiagnostik

PSIKODIAGNOSTIK


Psikologi menurut Sigmund Freud adalah ilmu tentang ketidaksadaran manusia. Sedangkan menurut Descartes dan Wundt (Davidoff, 1981), Psikologi adalah ilmu tentang kesadaran manusia.
Pada akhir abad ke-19 terjadilah babak baru dalam sejarah Psikologi. Pada tahun 1879, Wilhem Wundt (Jerman, 1832-1920) mendirikan laboratorium Psikologi pertama di Leipzig yang menandai titik awal Psikologi sebagai suatu ilmu yang berdiri sendiri. Sebagai tokoh Psikologi Eksperimental, Wundt memperkenalkan metode Introspeksi yang digunakan dalam eksperimen-eksperimennya
Pada umumnya psikologi mengukur perilaku, yaitu sikap (kognitif, afektif dan psikomotor), attitude, dan personality individu. Dalam psikologi menurut Morgan, psikologi memasukkan unsur learning, yaitu bermain pada kapasitas IQ dari individu.
Penelitian wundt yang pertama kali, tertuju pada performance individu, yaitu membandingkan individu satu dengan individu lainnya menggunakan performance kecepatan individu tersebut. Misalnya kecepatan berlari.
Psikodiagnostik itu sendiri adalah keseluruhan cara, metode dan teknik untuk menentukan ciri suatu atau struktur psikis individu atau kelompok lain. Tugas dari psikodiagnostik yaitu mengembangkan pengetahuan tentang variasi atau perbedaan psikis.
Psikodiagnostik juga digunakan untuk menentukan jenis gangguan yang terdapat pada masing-masing individu. Metode psikodiagnostik ada 2 pengertian, pertama dalam arti sempit yaitu penggunaan tes-tes diklinik dan kedua dalam arti luas yaitu metode wawancara, observasi dan juga tes-tes di klinik.
Psikodiagnostik termasuk dalam psikologi diferensial, perbedaan psikologi umum dengan psikologi diferensial yaitu, psikologi umum mempelajari masalah, proses psikis, hukum-hukum psikis secara umum (akademis), psikologi diferensial itu sendiri mencakup keadaan ‘psyche’ dari macam-macam kepribadian, bangsa, dan tipe (Stern).
Dalam psikologi terdapat issue antara nature vs nurture. Nature adalah pandangan bahwa perilaku muncul sebagai bawaan sejak lahir, biologis, turunan gen dari orang tua.  Nurture adalah pandangan bahwa perilaku muncul sebagai hasil interaksi dari lingkungan sosialBelum ada yang bisa menunjukan secara ilmiah, mana yang berpengaruh paling besar antara nature atau nurture dalam pembentukan perilaku individu, namun pada dasarnya interaksi dengan lingkungan sosial lah yang paling berpengaruh dalam pembentukan perilaku, karena kehidupan sehari-harilah yang kita jalani sebagaimana filosofinya bahwa manusia adalah makhluk sosial.